Mari mengenal manhaj salaf

             Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengumpulkan para sahabat sebagai pendamping dan pembela dakwah beliau. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Muhammad, keluarga dan para pengikutnya yang setia hingga akhir masa. Amma ba’du . Kaum muslimin sekalian, semoga Allah melimpahkan hidayah dan taufik-Nya kepada kita. Seringkali masyarakat dibingungkan oleh sebuah istilah yang belum mereka mengerti dengan baik. Nah, dibangun di antara berbagai makna yang muncul dan persembahan dan bahkan tuduhan bukan-bukan kepada sesama saudara seiman. Perlu kita ingat bersama bahwa cek dan ricek merupakan bagian dari keindahan ajaran Islam yang harus kita jaga. Allah ta’ala berfirman yang tidak,“Wahai orang-orang yang beriman jika orang-orang datang ke kalian membawa berita dan telitilah kebenarannya…” (QS. Al Hujuraat: 6) (Silahkan baca penjelasan ini di rubrik Tafsir Majalah As Sunnah Edisi 01 / Thn X / 1427 H / 2006 M, hal. 11-15).

Saudara-saudara sekalian, di hadapan kita ada istilah yang cukup populer namun sering disalahpahami oleh sebagian orang. Istilah yang disebut adalah kata salaf atau salafi dan salafiyah . Menimbang sifat-sifat hakikat yang dilakukan untuk mengungkapkan dan memisahkan kami untuk memohon pertolongan kepada Allah ta’ala untuk turut merawat mengurai “benang kusut” ini. Semoga Allah membuat amal-amal kita ikhlas untuk mewujudkan wajah-Nya semata. Wallahu waliyyut taufiiq .

Syaikh Salim Al Hilaly -salah satu murid senior Ahli Hadits abad ini Syaikh Al Albani- hafizhahullah telah membeberkan perkara ini dengan gamblang dalam buku beliau Limadza Ikhtartul Manhaj Salafy yang sudah diterjemahkan oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. hafizhahullah dengan judul Mengapa Memilih Manhaj Salaf penerbit Pustaka Imam Bukhari, Solo. Kami sangat mengocok untuk para pembaca sekalian untuk memiliki atau membaca buku itu secara langsung. Orang bilang, “Tak kenal, jangan sayang …”

Pemahaman Yang Benar dan Niat Baik

Pada awal risalah ini kami ingin menukilkan sebuah perkataan dari Imam Ibnul Qayyim demi kebebasan kaum muslimin sekalian agar menjaga diri dari dua bahaya besar, yaitu kesalah pahaman dan niat yang buruk. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pemahaman yang benar dan niat yang baik adalah termasuk nikmat yang agung yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Kirim pesan ke orang-orang lain yang lebih besar dan lebih agung setelah nikmat Islam dengan menggunakan minuman ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama Islam, dan Islam tegak di atas pondasi keduanya. Dengan dua nikmat inilah hamba bisa menyelamatkan dia dari terjebak di jalan orang yang dimurkai ( al maghdhuubi ‘alaihim) yaitu orang yang memiliki niat yang rusak. Dan juga dengan baik ia selamat dari jebakan jalan orang sesat ( adh dhaalliin ) yaitu orang-orang yang pemahamannya rusak. Dengan mereka akan termasuk orang yang meniti orang yang memberi nikmat ( an’amta ‘alaihim ) yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik. Mereka berhubungan dengan shirathal mustaqim … ”( I’laamul Muwaqqi’iin , 1/87, dinukil dari Min Washaaya Salaf , hal. 44).

Oleh sebab itu di sini kami katakan: Hendaknya kita semua upaya seoptimal mungkin untuk memahami masalah yang kita hadapi ini sebaik-baiknya dengan dilandasi niat yang baik yaitu untuk mencari kebenaran dan kemudian mengikutinya. Hal ini sangat penting. Karena tidak sedikit kita saksikan orang-orang yang memiliki niat yang baik karena karena tidak bisa mencermati hakikatnya, maka ia terjatuh dalam kekeliruan, sungguh-sungguh banyak orang seperti ini… Di sisi lain adapula orang-orang yang berasal dari sisi taraf pendidikan atau gelar akademis yang sudah didapatnya (meskipun itu bukan menjadi parameter pemahaman) adalah termasuk golongan orang yang ‘mengerti’, namun sangat disayangkan ilmu yang diperolehnya tidak menimbulkan ketundukan terhadap manhaj salaf yang haq ini. Jika kita temui, ada sebagian da’i yang lebih memilih manhaj / metode selain manhaj salaf, padahal ia juga termasuk lulusan Universitas Islam Madinah Arab Saudi (Ini adalah tempat terbaik untuk seseorang). Bahkan ada di antara mereka yang berhasil mendapatkan predikatcum laude di sana, namun tatkala pulang ke Indonesia, kembalilah dia ke pangkuan hizbiyyah (kepartaian) dan larut dalam kancah politik ala Yahudi, ikut berebut kursi dan memperbanyak jumlah acungan jari… Wallahul musta’aan . Semoga Allah menambahkan mereka kepada kebenaran.

Marilah kita ingat ayat yang sangat indah yang akan menunjukkan jalan untuk memecahkan masalah. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulul amri di antara kalian. Kemudian Anda akan berselisih hal-hal yang diperlukan untuk mengembalikannya kepada Allah dan Rasul, jika Anda benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu sangat lebih baik bagi kalian dan lebih bagus hasil. ” (QS. An Nisaa ‘: 59)

Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang disebut ulul amri adalah penutup umara ‘ (penguasa / pemerintah) dan juga ulama (ahli ilmu agama). Beliau juga menjelaskan bahwa makna taatilah Allah yang mengandung ikutilah Kitab-Nya (Al Qur’an). Sedangkan makna taatilah Rasul adalah ambillah ajaran (Sunnah) beliau. Arti makna ketaatan kepada ulul amri adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah bukan dalam hal maksiat. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits yang shahih, “Sesungguhnya ketaatan itu hanya boleh dalam perkara ma’ruf (bukan kemungkaran).”(HR. Bukhari dan Muslim). Kemudian Anda akan berselisih dalam proses perkara kemudian kembalikanlah kepada Allah dan Rasul. Kalimat tersebut maknanya adalah kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, demikianlah tafsiran Mujahid dan para ulama salaf yang lain.

Kemudian Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Ini merupakan perintah dari Allah ‘azza wa jalla bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia yang berhubungan dengan masalah-dasar agama atau cabang-cabangnya untuk melakukan perselisihan tentang hal itu harus diubah kepada Al Kitab dan As Sunnah. Ini jelas firman Allah ta’ala (yang berarti), “Dan apa saja yang kalian perselisihkan maka hasilnya kembali kepada Allah.” (QS. Asy Syuura: 10). Maka hasil yang diambil oleh Al Kitab dan As Sunnah juga dipersaksikan keabsahannya oleh keduanya berat al haq (kebenaran). Dan tidak ada pesanpun kesesatan … ”(lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim , II / 250).

Kata Salaf Singkat Bahasa

Salaf secara online orang yang sempurna, baik dari sisi ilmu, keimanan, keutamaan atau jasa yang baik. Seorang ahli bahasa Arab Ibnu Manzhur mengatakan, “Kata salaf juga berarti orang yang mendahului kamu, yaitu nenek moyangmu, sanak kerabatmu yang berada di atasmu dari sisi umur dan keutamaan. Oleh karena itu, generasi awal yang menggunakan para sahabat disebut dengan salafush shalih (pendahulu yang baik). ”( Lisanul ‘Arab , 9/159, dinukil dari Limadza , hal. 30). Makna seperti ini mirip dengan kata salaf yang ada di dalam ayat Allah yang berarti, “Maka tatkala orang membuat Kami murka, Kami menghukum mereka, Kami menemukan mereka semuanya di laut dan Kami jadikan mereka sebagai salaf (Pelajaran) dan contoh bagi orang-orang kemudian . “(QS. Az Zukhruf: 55-56). Maksudnya adalah: Kami menggunakan mereka sebagai Pelajaran Pendahulu bagi Orang-Orang yang melakukan perbuatan yang mereka inginkan dari mereka yang mau mengambil pelajaran dan mengambil nasihat darinya. (Lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih , hal. 20).

Dengan demikian kita bisa serupakan makna kata salaf ini dengan istilah nenek moyang dan leluhur dalam bahasa kita. Dalam kamus Islam kata ini bukan barang baru. Akan tetapi pada jaman Nabi kata ini sudah dikenal. Seperti halnya dalam sebuah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada puterinya Fathimah radhiyallahu’ anha . Beliau bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik salaf mu adalah aku.” (HR. Muslim). Artinya sebaik-baik pendahulu . (lihat Limadza , hal. 30, baca juga Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah , hal. 7). Oleh sebab itusecara bahasa, semua orang cacat adalah salaf. Baik yang jahat seperti Fir’aun, Qarun, Abu Jahal dan yang baik seperti Nabi-Nabi, para syuhada dan orang-orang shalih dari diskusi sahabat, dll. Adapun yang akan kita bahas sekarang artinya, maka akan makna istilah. Hal ini menyenangkan jelas bagi kita semuanya dan tidak muncul komentar, “Lho kalau begitu JIL juga salafi dong ..! Mereka kan juga punya pendahulu ” . Maaf, Mas… bukan itu yang kami maksudkan…

Kemudian muncul pertanyaan “Apa yang harus dilakukan dari definisi yang jelas tentang definisi yang jelas?” . Maka kami akan menjawabnya juga untuk menjawab Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah . Beliau mengatakan, “Faidahnya adalah lingkaran kita tentang keterkaitan makna antara objek penamaan syari’at dan objek penamaan lughawi (menurut bahasa). Begitulah akan terlihat jelas bagi kita bahwasanya istilah-istilah syari’atantangan melenceng secara total dari pemaknaan bahasanya. INI ADALAH TERGANTI SATU LAIN. Oleh sebab-sebabmu dan jumpai para fuqaha ‘ (ahli fikih atau ahli agama) rahimahumullahsetiap kali seseorang untuk melakukan sesuatu yang kemudian menjelaskan bahwa pengertiannya secara etimologi (bahasa) adalah sebagainya sementara istilah (istilah) adalah demikian; hal ini diperlukan untuk melihat bagimu tentang keterkaitan antara makna lughawi dengan makna ishthilahi . ”(lihat Syarh Ushul min Ilmil Ushul , hal. 38).

Istilah Salaf di Kalangan Para Ulama

Waktu para ulama akidah membahas dan menyebut-nyebut kata salaf yang kemudian mereka lakukan adalah salah satu di antara 3 kewajiban berikut:

Pertama: Para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Kedua: Shahabat dan murid-murid mereka ( tabi’in ).

Ketiga: Shahabat, tabi’in dan juga para Imam yang telah menyatakan kredibilitasnya di dalam Islam sebagai mereka yang senantiasa dari sunnah dan berjuang membasmi bid’ah (lihat Al Wajiz , hal. 21).

Syaikh Salim Al Hilaly hafizhahullah menerangkan, “Adapun Beroperasi Terminologi kata salaf Berarti Sebuah Karakter Yang melekat Beroperasi Mutlak PADA Diri para sahabat r anhum adhiyallahu’ . Maka para ulama memberikan mereka juga tercakup dalam istilah ini karena sikap dan cara mereka yang meneladani para sahabat. ”( Limadza , hal. 30).

Syaikh Doktor Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql mengatakan, “Salaf adalah generasi awal dari ini, yaitu para sahabat, tabi’in dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun yang mendapatkan keutamaan (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in , -red). Dan setiap orang yang meneladani dan berjalan di manhaj mereka dialaman masa disebut sebagai salafi sebagai bentuk penisbatan terhadap mereka. ”( Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah , hal. 5-6).

Al Qalsyani mengatakan di dalam kitabnya Tahrirul Maqalah min Syarhir Risalah , “Seperti Salafush shalih, mereka itu adalah awal (Islam) yang mendalam ilmunya serta meniti jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan senantiasa menjaga Sunnah beliau. Allah ta’ala telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Para imamin ini pun merasa ridha kepada mereka. Mereka telah berjihad di jalan Allah dengan penuh kesungguhan. Mereka mengerahkan daya mereka untuk menasihati orang dan memberikan kemanfaatan bagi mereka. Mereka juga menjaga diri menggapai keridhaan Allah… ”(lihat Limadza , hal. 31). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sebaik-baik orang adalah di jamanku (sahabat), kemudian orang-orang mereka ( tabi’in ) dan kemudian orang orang mereka ( tabi’ut tabi’in ).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jawabannya termasuk para sahabatnya adalah salaf yang ini. Demikian pula orang-orang yang menyerukan dakwah saat mereka juga disebut sebagai orang yang menempuh manhaj / metode salaf, atau biasa disebut dengan istilah salafi, bukan Pengikut Salaf. Istilah-istilah salaf hanya dalam masa sahabat, tabi’in dan tabi’ut adalah kebebasan yang keliru. Karena di masa itupun sudah muncul tokoh-tokoh pelopor bid’ah dan kesesatan. Akan tetapi yang benar adalah kesesuaian akidah, hukum dan perilaku mereka dengan Al Kitab dan As Sunnah serta pemahaman salafush shalih. Oleh karena orang orang yang sedang asalkan dia sesuai dengan ajaran Al Kitab dan As Sunnah maka berarti dia adalah pengikut salaf. Meskipun jarak dan masanya jauh dari periode Kenabian. Ini berarti orang-orang yang semasa dengan Nabi dan sahabat akan tetapi tidak beragama, termasuk mereka yang mungkin mengakses mereka, meskipun orang-orang itu sesuku atau bahkan sebaliknya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Al Wajiz , hal. 22, Limadza , hal 33 dan Syarah Aqidah Ahlus Sunnah , hal. 8).

Contoh-contoh Keutamaan Kata “Salaf”

Kata salaf sering dilakukan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Shahihnya. Imam Bukhari rahimahullah mengatakan, “Rasyid bin Sa’ad berkata: Para salafalat kuda jantan. Karena ia lebih lincah dan lebih berani. ” Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menolder kata salaf tersebut,“ Maksudnya adalah para sahabat dan orang-orang mereka. ”Syaikh Salim mengatakan,“ Yang disebut (oleh Rasyid) adalah para sahabat radhiyallahu’anhum . Karena Rasyid bin Sa’ad adalah seorang tabi’in(murid sahabat), orang yang disebut salaf olehnya adalah para sahabat tanpa ada keraguan. ”Demikian pula perkataan Imam Bukhari,“ Az Zuhri mengatakan tentang tulang bangkai semacam gajah dan selainnya: Aku Jelek dari para ulama salaf yang bersisir dengannya (tulang) dan pemanfaatan sebagai tempat minyak rambut. Mereka memandangnya mutlak mengapa. ”Syaikh Salim mengatakan,“ Yang disebut (dengan salaf di sini) adalah para sahabat radhiyallahu’anhum , karena Az Zuhri adalah seorang tabi’in. ”(Lihat Limadza , hal. 31-32).

Kata salaf juga diucapkan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya. Di dalam mukaddimahnya Imam Muslim mengeluarkan hadits dari jalan Muhammad bin ‘Abdullah. Ia (Muhammad) mengatakan: Aku mendengar ‘Ali bin Syaqiq mengatakan: Aku melihat Abdullah bin Al Mubarak berkata di hadapan orang banyak, “Tinggalkanlah hadits (yang dibawakan)’ Amr bin Tsabit. Karena dia mencaci kaum salaf. ” Syaikh Salim mengatakan,“ Yang terlindung adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum . ”( Limadza , hal. 32).

Kata salaf juga sering dipakai oleh para ulama akidah di dalam kitab-kitab mereka. Seperti contohnya sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam Al Ajurri di dalam kitabnya yang berjudul Asy Syari’ah bahwa Imam Auza’i pernah berpesan, “Bersabarlah yang di atas Sunnah. Bersikaplah akses kaum itu (salaf) bersikap. Katakanlah perbedaan yang mereka katakan. Tahanlah ganti diri dari mereka. Dan titilah jalan salafmu yang shalih. Karena sesungguhnya sudah cukup bagimu apa yang membuat mereka cukup. ”Syaikh Salim mengatakan,“ Yang menggantikan adalah sahabat ridhwanullahi ‘alaihim . ”(Lihat Limadza , hal. 32) Hal ini karena Al Auza’i adalah seorang tabi’in .

Kerancuan Seputar Istilah Salafiyah

Sedangkan yang berhubungan dengan salafiyahadalah penyandaran diri kepada kaum salaf. Arti makna salafiyah yang digunakan sebagai sumber aliran pesantren yang menggunakan pengkodean yang kuno. Yang dengan persangkaan itu mereka anggap bahwa salafiyah bukan sebuah manhaj (metode beragama) akan tetapi sebagai sebuah sistem belajar mengajar yang belum membahas modernisasi. Dan yang terbayang di pikiran mereka adalah suara para santri yang berpeci hitam dan memakai sarung kesana kemari dengan menenteng kitab-kitab kuning. Seperti yang terjadi pada sebagian kelompok yang menisbatkan pondoknya sebagai pondok salafiyah, namun realitanya mereka jauh dari tradisi ilmiah kaum salaf. Syaikh Salim mengatakan, “Seperti salafiyah adalah penisbatan diri kepada kaum salaf.Limadza , hal. 33).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Daniak tercela bagi orang-orang yang menampakkan diri sebagai pengikut madzhab salaf, menyandarkan diri evolusi dan menikmati mulia dengannya. Bahkan wajib menerima pengakuannya dengan dasar kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya madzhab salaf tidak lain adalah kebebasan itu sendiri. ”( Majmu ‘Fatawa , 4/149, lihat Limadza , hal. 33). Maka sungguh aneh anehnya ada orang-orang zaman sekarang ini yang merupakan hewan yang salat dicawi oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab atau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallahyang ‘memberontak’ dari tatanan yang sudah ada dengan berbagai aksi penghancuran dan pengkafiran yang membabi buta. Dengan kata lain mereka salafiyah maka yang tergambar di benak mereka adalah kaum Wahabi yang suka mengacaukan ketentraman dengan berbagai aksi penyerangan dan tindakan-tidak sopan. Atau Ada lagi yang menganggap bahwa salafiyah adalah gerakan reformasi dakwah yang dipelopori oleh Jamaluddin Al Afghani bersama Muhammad ‘Abduh pada era penjajahan Inggris di Mesir. Ini adalah semua yang mereka tidak nyata dari paham tentang sejarah ini.

Syaikh Salim mengatakan, “Orang yang mengeluarkan informasi ini atau yang menyebarkan adalah orang yang tidak memahami sejarah ini, asal-usul dan perjalanan yang tepat yang terhubung dengan para salafush shalih. Oleh karena itu sudah menjadi kebiasaan para ulama di masa lisan untuk mensifati setiap orang yang mengikuti pencitraan radhiyallahu ‘anhum dalam hal akidah dan manhaj sebagai seorang salafi (Pengikut Salaf). Lihat riwayat ahli Islam Al Hafizh Al Imam Adz Dzahabi di dalam kitabnya Siyar A’laamin Nubalaa ‘(16/457) membuat membawakan ucapan Al Hafizh Ad Daruquthni, “Tidak ada yang lebih baik daripada ilmu menekuni ilmu kalam / filsafat.” Maka Adz Dzahabi pun mengatakan (dengan nada berbakat, red), “Orang ini (Ad Daruquthni) belum pernah terjun Dalam ilmu kalam sama sekali juga tidak menceburkan dirinya dalam dunia perdebatan (yang tercela) dan beliau juga tidak ikut meramaikan perbincangan di dalam hal itu. Akan tetapi beliau adalah seorang salafi. ”( Limadza , hal. 34-35).

Perlu kita bersihkan bersama bahwa Imam Ad Daruquthni yang disebut sebagai ‘salafi’ oleh Imam Adz Dzahabi di atas hidup pada tahun 306-385 H. Sedangkan Ibnu Taimiyah hidup pada tahun 661-728 H. Sebab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hidup pada tahun 1115- 1206 H. Nah, pembaca bisa menyaksikan sendiri siapakah yang lahir terlebih dahulu. Apakah Ibnu Taimiyah atau bahkan Muhammad bin Abdul Wahhab itu lahir sebelum Ad Daruquthni Status dia layak disebut sebagai vegetarian kali ini. Apakah dengan penukilan semacam ini kita akan menugaskan bahwa Imam Ad Daruquthni adalah Pengikut Ibnu Taimiyah atau Muhammad bin Abdul Wahhab ??Jawablah wahai kaum yang berakal… Anak-anak kelas 5 SD pun (bukan berarti meremehkan, red) tahu jika yang disebut Pengikut itu tetap yang diikuti, bukan sebaliknya. Wallaahul musta’aan .

Penamaan Salafiyah Bukan Bid’ah

Kalau ada orang yang mengatakan bahwa istilah salafiyah adalah istilah bid’ah karena ia tidakselama waktu masa sahabat radhiyallahu’anhum . Maka jawabannya: Kata salafiyah memang pernah dilakukan oleh Rasul dan para sahabat pada saat itu masih belum diperlukan. Pada saat itu, kaum muslimin, generasi awal masih hidup di dalam pemahaman Islam yang shahih tidak dapat menerima penamaan seperti ini. Mereka bisa memahami Islam dengan tulus tanpa perlu khawatir akan terjadi penyimpangan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammasih berada di antara mereka. Hal ini memungkinkan mereka mampu berbicara dengan bahasa Arab yang fasih tanpa perlu mempelajari ilmu Nahwu, Sharaf dan Balaghah. Apakah ada di antara para ulama yang membid’ahkan ilmu-ilmu tersebut karena semata-mata tidak ada di zaman Nabi?! Oleh karena itu muncul berbagai kekeliruan dan penyimpangan dalam penggunaan bahasa Arab maka muncullah ilmu-sains bahasa Arab yang demi meluruskan kembali pemahaman dan menjaga keutuhan bahasa Arab. Maka demikian pula dengan istilah salafiyah.

Saat ini adalah kumpulan dari perbedaan-perbedaan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin maka sangat dibutuhkan adanya rambu-rambu yang jelas demi pemahaman Islam untuk menemukan yang masih murni dan lurus. Selain itu kelompok yang menyerukan pemahaman yang menyimpang itu juga mengaku sebagai pengikut Al Qur’an dan As Sunnah. Berdasarkan realita inilah para ulama bangkit untuk menggantikan pemahaman yang masih murni dengan pemahaman-pemahaman lainnya dengan nama pemahaman ahli hadits dan salaf atau salafiyah (lihat Limadza , hal. 36).

Kalaupun masih ada orang yang tetap mengatakan hal ini maka kami akan mengatakannya: Kalau dia konsekuen dengan pengingkaran ini maka dia pun harus menolak penamaan yang tidak ada di zaman Nabi seperti istilah Hanbali (pengikut fikih Ahmad bin Hanbal), Hanafi (Pengikut fikih) Abu Hanifah), Nahdhiyyiin (Pengikut Nahdhatul Ulama), dll. Kalau dia mengatakan, “ Oo, kalau ini berbeda…!”Maka kami katakan: Baiklah, anggap istilah salafiyah yang berbeda dengan istilah-istilah itu, namun kami tetap mengatakan bahwa penamaan salafiyah lebih layak untuk dipakai istilah Hanbali, Hanafi atau Nahdhiyyiin. Alasannya adalah karena salafiyah adalah penisbatan untuk generasi Shahabat yang sudah dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya dan diciptakan secara umum dari bersepakat dalam kesalahan. Adapun Hanbali, Hanafi dan Nahdhiyyiin adalah penisbatan kepada individu dan kelompok yang tidak ada dalil tentang keutamaannya dan juga tidak fleksibel dari kesalahan mereka secara kelompok. Maka bagaimana mungkin kita bisa menerima penisbatan kepada pribadi dan kelompok yang tidak ma’dhum (terpelihara dari kesalahan) dan tepat menolak penisbatan kepada pribadi dan kelompok yang ma’dhum … ??Laa haula wa laa quwwata illa billaah…(lihat Silsilah Abhaats Manhajiyah As Salafiyah 5 hal. 66-67 karya Doktor Muhammad Musa Nashr hafizhahullah , tolong baca juga fatwa para ulama tentang kewajibannya berpegang teguh dengan manhaj Salaf di dalam Rubrik Fatwa, Majalah Al Furqan Edisi 8 Tahun V / Rabi’ul Awwal 1427 H / April 2006 M hal. 51-53. Bacalah …!).

Meninggalkan Salaf Berarti Meninggalkan Islam

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah pernah ditanya: Mengapa harus menamakan diri dengan salafiyah? Apakah aku sebuah dakwah yang menyeru kepada partai, kelompok atau madzhab tertentu. Ataukah ia merupakan sebuah firqah (kelompok) baru di dalam Islam? Maka beliau rahimahullahmenjawab, “Sesungguhnya kata Salaf sudah sangat terkenal dalam bahasa Arab. Yang penting kita pahami pada saat ini adalah pengertiannya menurut pandangan syari’at. Dalam hal ini terjadi sebuah hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau berkata kepada Sayyidah Fathimah radhiyallahu’ anha di saat beliau menderita sakit menjelang kematiannya,“Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Dan sebenarnya sebaik-baik salaf (pendahulu) mu adalah aku. ” Demikian pula para ulama banyak sekali memakai kata salaf. Dan ungkapan mereka dalam hal ini terlalu banyak untuk menghitung dan membalik. Cukuplah kiranya kami bawakan sebuah contoh saja. Ini adalah sebuah badan yang dapat digunakan dalam rangka untuk berbagai macam bid’ah. Mereka mengatakan, “Semua kebaikan ada dalam sikap kaum salaf… dan semua keburukan bersumber dalam bid’ah yang terbuat dari kaum khalaf (kemajuan).”… ”

Kemudian Syaikh melanjutkan penjelasannya, “Akan tetapi ada beberapa orang yang mengakuinya termasuk ahli ilmu; ia mengingkari penisbatan ini dengan sangkaan bahwa istilah ini tidak ada dasarnya di dalam agama, mengatakan ia mengatakan, “Tidak bisa bagi seorang muslim untuk mengatakan saya adalah seorang salafi.” Seolah-olah dia ini mengatakan, “Seorang muslim tidak boleh mengatakan:” Pengikut Salafush shalih hearts Hal akidah, ibadah Dan Perilaku.”Dan TIDAK diragukan Lagi bahwasanya penolakan seperti Penyanyi -meskipun dia TIDAK bermaksud demikian- memberikan konsekuensi untuk review berlepas Diri Dari Islam Yang shahih Yang diamalkan Oleh para Salafush shalih Yang mendahului kitd Yang ditokohi Oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sebagaimana disinggung di hearts hadits mutawatir di hearts shahihain Dan selainnya Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, ‘Sebaik-Baik Manusia Adalah di zamanku (sahabat), kemudian diikuti orangutan Sesudah mereka, Dan kemudian Sesudah mereka.’ Oleh sebab ITU Kemudian digunakan untuk seorang muslim untuk berlepas diri dari menisbatkan dirinya kepada salafush shalih. Berbeda dengan penisbatan (salafiyah) ini, seandainya dia berlepas diri dari penisbatan (kepada kaum atau kelompok) yang lainnya tidak ada yang di antara para ulama yang akan menyandarkannya untuk kekafiran atau kefasikan… ”( Al Manhaj As Salafi ‘inda Syaikh Al Albani , hal. 13-19, lihatSilsilah Abhaats Manhajiyah As Salafiyah 5 hal. 65-66 karya Doktor Muhammad Musa Nashr hafizhahullah ).

Cinta Salaf Berarti Cinta Islam

Ketahuilah saudaraku, salaf nyata atau para sahabat adalah pilihan generasi yang harus kita cintai. Sebagaimana kitd Mencintai Nabi Maka kitd pun Harus Mencintai orang-orangutan Pertama Yang Telah mengorbankan jiwa, harta Dan Pikiran mereka untuk review membela dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mereka memenuhi para sahabat yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Inilah akidah kita, tidak perlu akidah kaum Rafidhah / Syi’ah yang membangun agamanya di kebencian kepada para sahabat Nabi. Imam Abu Ja’far Ath Thahawi rahimahullah mengatakan di dalam kitab ‘Aqidahnya yang menjadi rujukan Muslim di sepanjang zaman, “Kami mencintai para sahabat Rasulullah shallallahu’ alaihi wa sallam. Kami tidak melampaui batas dalam mencintai salah satu di antara mereka. Dan kami juga tidak dapat mengeluarkan dari mereka di antara mereka. Kami mengumpulkan orang-orang dan mereka dan juga orang-orang yang mendidik mereka dengan cara tidak baik. Kami tidak merayakan mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah termasuk agama, iman dan ihsan. Sedangkan itu adalah kekufuran, kemunafikan dan pelanggaran batas. ”( Syarah ‘Aqidah Thahawiyah cet. Darul’ Aqidah, hal. 488). Pernyataan beliau adalah kebenaran yang dibangun di atas dalil-dalil syari’at, bukan sekadar omong kosong dan bualan belaka syarat akidahnya kaum Liberal. Marilah kita buktikan…

Ini adalah dalil-dalil hadits yang menunjukkan bahwa kaum Anshar adalah tanda keimanan seseorang. Imam Bukhari rahimahullah membuat sebuah bab di dalam kitabul Iman di kitab Shahihnya dengan judul ‘Bab tanda keimanan mencintaisendirian kaum Anshar’ . Kemudian beliau membawakan sebuah hadits dari Anas, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Tanda keimanan adalah Suka kaum Anshar, dan tanda kemunafikan adalah kaum kaum Anshar.” (Bukhari no. 17). Imam Muslim juga mengeluarkan hadits ini di dalam Kitabul Iman dengan lafazh, “Tanda orang munafik adalah kejahatan Anshar. Dan tanda orang beriman adalah mencintai Anshar. ” (Muslim no. 74) di dalam bab Fadha’il Anshar(Keutamaan kaum Anshar). Imam bukhari juga membawakan hadits Barra ‘bin’ Azib bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kaum Anshar, tidak ada orang yang mereka anggap orang orang kecuali orang beriman.”Imam Muslim juga meriwayatkan di dalam kitab shahihnya dari Abu Sa’id bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada satu pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir lantas kasta kaum Anshar.” (Muslim no. 77). Dalam situasi lain mengatakan, “Tidaklah mencintai mereka kecuali orang-orang beriman dan menantang mereka kecuali orang munafik. Barangsiapa yang mencintai mereka maka Allah mencintainya. Dan barangsiapa yang mencekik mereka maka Allah juga membencinya. ”(Muslim no. 75). Begitu pula Imam Ahmad mengeluarkan hadits dari Abu Sa’id di dalam Musnadnya, bahwa Nabi bersabda, “Mencintai kaum Anshar adalah keimanan dan kekacauan mereka adalah kemunafikan.” (Lihat Fathul Bari , 1/80, Syarah Muslim , 2 / 138-139) .

Imam Nawawi rahimahullah kompilasi menjelaskan sebagian hadits di atas mengatakan, “… Makna hadits-hadits ini adalah barangsiapa yang beretika kedudukan kaum Anshar, keunggulan mereka dalam hal pembelaan terhadap agama Islam, pertolongan mereka dalam menampakkannya, danurunnya Islam (dari serangan musuhnya), dan juga kesungguhan mereka dalam menunaikan tugas penting dalam agama Islam yang diberi mereka, kecintaan mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamdan kecintaan Nabi kepada mereka, kesungguhan mereka dalam mengerahkan harta dan jiwa di hadapan beliau, peperangan dan permusuhan mereka terhadap orang manusia (yang menantang dakwah Nabi, red) demi menjunjung tinggi Islam… .maka ini semua menjadi salah satu tanda kebenaran iman dan ketulusannya dalam memeluk Islam… ”( Syarah Muslim , 2/139).

Disamping itu dalil-dalil dari Al Qur’an juga lebih jelas lagi bagi kita bahwa para sahabat adalah bagian keimanan yang tidak bisa terpisah. Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Para sahabat adalah generasi terbaik, ini berdasarkan sabda Nabi ‘alaihis shalatu adalah salam , “ Sebaik-baik kurun (masa) adalah masaku. Kemudian orang-orang yang menyusul mereka. Dan kemudian generasi berikutnya yang merayakannya. ” Maka mereka itu adalah kurun terbaik karena keutamaan mereka dalam bersahabat dengan Nabi ‘alaihish shalatu adalah salam . Ini adalah keimanan dan keunikan mereka adalah kemunafikan. Allah ta’ala berfirman yang tidak,“… Supaya Allah membuat orang-orang kafir benci dengan keberadaan mereka (para sahabat).” (QS. Al Fath: 29). Maka tanggung terbaik muslim adalah orang-orang yang dalil keras dari ayat ini. Karena Allah ‘azza wa jalla sudah mencintai mereka dan juga kecintaan Nabi shallallahu’ alaihi wa sallam kepada mereka. Dan juga karena mereka telah berjihad di jalan Allah, memasukkan agama ke berbagai belahan timur dan barat bumi, mereka muliakan Rasul dan beriman kepada beliau. Mereka juga telah pernah menggunakan cahaya kebebasan yang diturunkan bersamanya. Inilah akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. ”( Syarah ‘Aqidah Thahawiyah , hal. 489-490).

Catatan:

Diperlukan kita bahwa riwayat yang dibawakan oleh Syaikh Shalih Al Fauzan di atas yaitu hadits yang bunyinya, “Sebaik-baik kurun (masa) adalah masaku dst” dengan lafazh khairul quruun… . Syaikh Salim Al Hilaly mengatakan, “Hadits ini tersebar di dalam banyak kitab dengan lafazh khairul quruun (sebaik-baik). Saya (Syaikh Salim) katakan: Lafazh ini tidak terpisahkan keotentikannya. Yang benar adalah yang sudah kami sebutkan (yaitu Khairunnaas ; sebaik-baik manusia, red). ”(Lihat Limadza Ikhtartul Manhaj Salafi , hal. 87).

Benci Salaf Berarti Benci Islam

Allah ta’ala berfirman yang berarti, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan mereka adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku ‘dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadi tanaman yang kuat kemudian menjadi besar dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah ingin menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang dijual di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. ”(QS. Al Fath: 29). Di dalam ayat ini adalah salah satu fungsi para pemain yaitu membuat jengkel dan marah orang-orang kafir.

Imam Ibnu Katsir mengatakan di dalam tafsirnya terhadap ayat yang mulia ini, “Dan berdasarkan ayat inilah Imam Malik rahimahullah menarik sebuah kesimpulan hukum yang tertera dalam salah satu riwayat darinya untuk mengkafirkan kaum Rafidah (bagian dari Syi’ah) yang membersihkan para sahabat radhiyallahu’anhum . Beliau (Imam Malik) mengatakan, “Hal itu karena mereka (para sahabat) membuat benci dan jengkel mereka (kaum Rafidhah). Barangsiapa yang mencemarkan para sahabat radhiyallahu’anhum maka dia telah kafir. ”Danpun ulama radhiyallahu’anhum pun menyertainya di hadapan umum…” (lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim , 7/280).

Dari perkataan Imam Malik dan penjelasan Imam Ibnu Katsir ini teranglah bagi kita bahwasanya konflik yang terjadi antara kaum Syi’ah (yang dulu atau para pengikut Khomeini yang ada saat ini) dengan Ahlus Sunnah / Sunni bertempat tinggal politik atau perebutan kekuasaan yang diselimuti dengan tidur agama yang dikatakan oleh Gus Dur -semoga Allah membandingkan petunjuk-, Kyai ini mengatakan di dalam suatu warahal dengan JIL (yang sama-sama suka menebarkan syubhat kepada muslim),“Konflik itu (maksudnya antara Syi’ah dan Sunni, red) muncul akibat doktrin agama yang dimanipulasi secara politis. Sejarah mengabarkan pada kita, dulu muncul peristiwa penganiyaan terhadap menantu Rasulullah, Ali bin Abi Thalib dan anak cucunya. Keluarga inilah yang disebut Ahlul Bayt, dan mereka memiliki pendukung fanatik. Pendukung atau pengikut dalam bahasa Arab yang disebut syiah. Selanjutnya kata syî’ah ini menjadi sebutan dan identitas bagi para pengikut Ali yang pada akhirnya menjadi salah satu firkah teologis dalam Islam. Sedangkan pihak yang menindas Ali dan pengikutnya dikenal dengan sebutan Sunni. Persoalan waktu nyata adalah tentang perebutan Hak atau Cerita Politik. Namun doktrin agama dibawa-bawa. ”(wawancara JIL dengan Gus Dur tentang RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi) Ini adalah kedustaan ​​… !!! (silakan baca tulisan Ustadz Abdul Hakim Abdat dalam Al Masaa’il jilid 3 Masalah 66, hal 42-72 yang membongkar kedokitan Syi’ah dengan akun fatwa-fatwa para ulama tentang Rafidhah / Syi’ah. Baca juga Majalah Al Furqon Edisi 6 Tahun V / Muharram 1427 dengan tema Agama Syi’ah Semoga Allah memberikan ganjaran yang besar kepada ustadz-ustadz oleh karena itu mereka. Bacalah !!).

Imam Ibnu Katsir juga mengatakan, “… Para sahabat itu memiliki keutamaan lebih, sehingga pula lebih awal, dan lebih sempurna, yang tidak ada seorangpun di antara orang-orang yang mampu menyamai kehebatan mereka, semoga Allah meridhai mereka dan aku pun ridha kepada mereka. Allah telah menerbitkan surga-surga Firdaus sebagai tempat tinggal mereka, dan Allah telah mengatur hal itu. (Imam) Muslim mengatakan di dalam shahihnya: Yahya bin Yahya menceritakan kepada kami, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu . Beliau mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Janganlah kamu mencaci para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku berada di fakta, seandainya ada salah seorang di antara kalian yang berinfak emas. Gunung Uhud niscaya itu tidak bisa mencapai (pahala) satu lumpur sedekah mereka, bahkan setengahnya juga tidak. ”(HR. Muslim dalam Fadha’il Shahabah, diriwayatkan juga Al Bukhari dalam kitab Al Manaaqib no. 3673). ”(lihat Tafsir Ibnu Katsir 7/280).

Allah Meridhai Salaf dan Para Pengikutnya

Di dalam ayat yang lain Allah ta’ala dan juga berfirman yang berarti, “Orang-orang yang menyebutkan lebih dari yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang memperlakukan mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. ” (QS. At Taubah: 100). Di dalam ayat ini Allah Minta tiga golongan manusia yaitu: kaum Muhajirin, kaum Anshar dan orang-orang yang memperlakukan mereka dengan baik. Maka kita katakan bahwa Muhajirin dan Anshar sadar generasi salafsuh shalih. Itu orang-orang yang memperlakukan mereka dengan baik yang disebut sebagai salafi . Al Ustadz Abdul Hakim Abdathafizhahullah mengatakan, “Ayat yang mulia ini merupakan ayat besar yang menjelaskan kepada kita pujian dan keridhaan Allah kepada para Shahabat radhiyallahu ‘anhum . Kirim Allah ‘azza wa jalla telah ridha kepada para Shahabat dan mereka pun ridha kepada Allah’ azza wa jalla. Dan Allah ‘azza wa jalla juga meridhai orang-orang yang suka perjalanan para Shahabat dari tabi’in , tabi’ut tabi’in dan setrusnya dari orang alim sampai orang awam di timur dan di barat bumi sampai hari ini. Mafhum -nya, mereka yang tidak pernah melakukan perjalanan para Shahabat, yang terang sampai mengkafirkannya, maka mereka tidak akan mendapatkan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala. ”( Al Masaa’il jilid 3, hal. 74).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan tentang tafsir ayat ini, “Allah ta’ala mengabarkan bahwa keridhaan-Nya tertuju kepada orang-orang yang terlebih dahulu (masuk Islam) yaitu kaum Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang memperlakukan mereka dengan baik. Inilah bukti dari mereka yang penuh dengan kenikmatan dan kelezatan yang abadi bagi mereka… ”( Tafsir Ibnu Katsir , 4/140). Imam Al-Alusi menerangkan bahwa mengobrol dengan As Saabiquun adalah seluruh kaum Muhajirin dan Anshar ( Ruuhul Ma’aani, Maktabah Syamilah). Imam Syaukani menjelaskan bahwa yang disebut dengan, “Orang-orang yang PERASA” di dalam ayat ini adalah orang-orang mereka (para sahabat) hingga hari kiamat. Menyediakan kata-kata, “dengan baik” merupakan ciri pembatas yang menunjukkan jati diri mereka. Itu mereka adalah orang-orang yang PERCEPATAN para sahabat dengan senantiasa berpegang teguh dengan orang dalam hal hal atau sebagai bentuk peniruan mereka terhadap As Sabiquunal Awwaluun , tafsiran serupa juga disampaikan oleh Syaikh As Sa’di di dalam tafsirnya (Lihat Fathul Qadir dan Taisir Karimir Rahman , Maktabah Syamilah ). Imam Ibnu Jarir Ath Thabari mengatakan di dalam tafsirnya bahwa yang berhubungan dengan“Orang-orang yang memperlakukan mereka dengan baik” di dalam ayat ini adalah: Orang-orang yang meniti jalan mereka dalam beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan juga berhijrah dari negeri kafir menuju negeri Islam dalam rangka mencari keridhaan Allah .. ”( Tafsir Ath Thabari, Maktabah Syamilah ).

Imam Asy Syinqithi rahimahullah mengatakan, “(Ayat) Ini merupakan dalil bertekad dari Al Qur’an yang menunjukkan bahwasanya barangsiapa mencaci mereka (para sahabat) dan mencemarkan mereka maka dia adalah orang yang sesat dan rinci Allah jalla wa ‘ala, dimana dia telah berani orang-orang yang telah diridhai Allah. Dan tidak mempercayai bahwa kebencian kepada orang yang sudah diridhai Allah merupakan sikap penentangan kepada Allah jalla wa ‘ala, tindakan congkak dan melampaui batas. ”(Lihat Adhwaa’ul Bayaan, Maktabah Syamilah ). Masih dalam konteks penafsiran ayat ini Imam Ibnu Katsir rahimahullahmemberikan sebuah komentar yang akan membakar email ahlul bid’ah pencela shahabat. Beliau mengatakan, “Duhai alangkah celaka orang yang keras atau mencela mereka, sungguh-sungguh orang yang keras atau mencela sebagian mereka…” Setelah memberitakan sikap orang-orang Rafidhah yang memusuhi, sakit dan mencela orang-orang terbaik setelah Nabi (termasuk Abu Bakar dan ‘Umar) Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Sikap ini (yaitu permusuhan, kebencian dan celaan kaum Rafidhah atau Syi’ah) menunjukkan bahwa mereka sangat terbalik dan hati mereka juga terbalik. Lalu dimanakah letak keimanan mereka terhadap Al Qur’an, keberanian-beraninya mereka mencela orang-orang yang telah diridhai oleh Allah? … ”( Tafsir Ibnu Katsir, 4/140) Maka hanguslah telinga-ahlul bid’ah; … mereka yang menekankan dan mencaci maki para shahabat; manusia terbaik yang pernah hidup di permukaan bumi, radhiyallahu ‘anhum wa ardhaahum (Allah ridha kepada mereka dan saya pun ridha kepada mereka).

Pemahaman Salaf Adalah Jalan Keluar Perselisihan

Abu Naajih ‘Irbadh bin Saariyah radhiyallahu’anhu mengatakan,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan sebuah saran kepada kami dengan nasihat yang menciptakan hati dan udara bercucuran. Maka kamipun mengatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah. Seolah-olah ini merupakan nasihat dari orang yang ingin berpisah. Maka sudilah kiranya Anda berikan wasiat kepada kami ”. Beliau pun bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian senitasasa kirim kepada tuhan kepada Allah. Dan tetaplah mendengar dan taat (kepada pemimpin). Meskipun yang bergerak adalah seorang budak. Karena sebenarnya barangsiapa yang hidup sesudahku akan banyak perselisihan. Maka berpeganglah dengan Sunnahku, dan Sunnah para khalifah yang lurus dan berpetunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi-gigi geraham. Serta jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan (di dalam agama).

Imam Nawawi mengatakan: (hadits ini) diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Beliau (Tirmidzi) transparan ‘Hadits hasan shahih’. Pen- takhrij Ad Durrah Seperti Salafiyah menyebutkan bahwa derajat hadits ini: shahih. Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (4/126), Abu Dawud (4607), Tirmidzi (2676), Al Haakim (1/174), Ibnu Hibaan (1/179) dan dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami ‘ hadits no. 2549 (lihat Ad Durrah As Salafiyyah Syarh Al Arba’in An Nawawiyah , cet. Markaz Fajr lith Thab’ah hal. 199, Lihat juga Lau Kaana Khairan , hal. 164).

Di dalam hadits yang mulia ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan sebuah solusi bagi orang-orang yang berselisih yang ada setelah beliau wafat: yaitu berpegang teguh dengan Sunnah Nabi dan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin . Imam Nawawi menerangkan bahwa kecenderungan Khulafa’ur Rasyidinadalah para khalifah yang beranggota empat; Abu Bakar, ‘Umar,’ Utsman dan ‘Ali radhiyallahu’anhum (lihat Ad Durrah As Salafiyah , hal. 201). Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied juga menjelaskan bahwa mereka adalah keempat khalifah tersebut berdasarkan ijma’ (lihat Ad Durrah As Salafiyah, hal. 202). Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan, “Rasul shallallahu’ alaihi wa sallam memerintahkan kita tatkala melihat perselisihan ini (yaitu, perselisihan, informasi dalam hadits) dan berpegang teguh dengan Sunnah beliau. Arti dari ungkapan ‘alaikum bi sunnatii adalah ; Berpegang teguhlah dengannya (dengan Sunnah Nabi)… ”. Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Sedangkan makna kata Sunnah beliau ‘alaihish shalaatu adalah salaam adalah: jalan yang beliau tempuh, yang mencerminkan akidah, akhlak, amal, ibadah dan lain sebagainya. Kita harus berpegang teguh dengan Sunnah (ajaran) beliau. Dan kita pun abadiim terbukti. Dinyatakan yang difirmankan Allah ta’ala yang tidak berarti,“Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadi orang-orang dalam situasi yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasakannya dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisaa ‘: 65 ). Dengan demikian Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah satu-satunya jalan bagi orang yang dikehendaki Allah untuk selamat dari berbagai perselisihan dan berbagai macam kebid’ahan… ”( Syarh Riyadhush Shalihin , I / 603).

Di dalam keterangan beliau terhadap Hadits Arba’in Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “… Kemudian beliau shallallahu’ alaihi wa sallam menugaskan kita teguh teguh dengan Sunnah-nya; yaitu jalan beliau, dan juga pengungsi berpegang teguh dengan jalan Khulafa’ur Rasyidin Al Mahdiyyin . Dan juga termasuk di dalamnya ( Khulafa’ur Rasyidin ) adalah para khalifah / menghilangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ilmu, ibadah dan dakwah pada orangnya, dan sebagai pemuka mereka adalah empat orang Khalifah; yaitu Abu Bakar, ‘Umar,’ Utsman dan ‘Ali radhiyallahu’anhum . ”(lihat Ad Durrah As Salafiyah, hal. 203). Keterangan Syaikh ‘Utsaimin ini mirip dengan keterangan Imam Al Mubarakfuri. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya hadits itu umum berlaku untuk setiap khalifah yang lurus dan tidak dikonfigurasi bagi dua orang Syaikh (Abu Bakar dan ‘Umar) saja. Dan telah dimaklumi berdasarkan kaidah-kaidah syari’at bahwa seorang khalifah yang lurus tidak membersihkan untuk jalan-jalan selain jalan yang diangkat oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . ”( Tuhfatul Ahwadzi , 3 / 50-51, dinukil dari Limadza , hal. 74-75).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan ( Majmu ‘Fatawa , 1/282), “Menyatukan dengan Sunnah (ajaran) Khulafa’ur Rasyidin maka mereka itu menggariskan sebuah benda yang dinamai sebelum Nabi (Nabi), kemudian dengan begitu ia termasuk bagian dari Sunnah beliau… ”(dinukil dari Limadza , hal. 73). Di dalam Tuhfatul Ahwadzi ( 3/50 dan 7/420) Al Mubarakfuri juga mengatakan, “Bukanlah yang berhubungan dengan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin kecuali jalan hidup mereka yang sesuai dengan dengan jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam …” (dinukil dari Limadza , hal. 73).

Laporan dari penjelasan para ulama di atas adalah yang disampaikan oleh Syaikh Salim Al Hilali. Beliau mengatakan, “Dengan demikian kesimpulan semua informasi ini menunjukkan bahwa Sunnah Khulafa’ur Rasyidin adalah penghitungan para Shahabat radhiyallahu ‘anhum terhadap agama, karena mereka senantiasa meniti jalan dan pemahaman Islam yang diarahkan oleh Nabi mereka…” ( Limadza , hal. 75) Maka kitd also mengatakan bahwasanya jalan Keluar Bagi Umat Islam Dari sekian Banyak Perselisihan Yang DAPAT kitd saksikan DENGAN mata kepala kitd PADA hari Penyanyi Berupa munculnya Jazz RS firqahDan Aliran-Aliran Adalah memegang teguh Sunnah (Ajaran) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdengan cara menggunakan para Shahabat radhiyallahu’anhum. Atau dengan kalimat yang ringkas kita katakan ‘Denganesuai manhaj salaf’. Inilah hakikat dari istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Barangsiapa tidak sesuai untuk para Shahabat maka dia telah menyempurnakan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang agung ini.

Hakikat Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Seperti Sunnah bisa secara harfiah jalan. Sebagai istilah Sunnah adalah ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk para sahabatnya, baik berupa keyakinan, perkataan maupun perbuatan. Dalam hal ini Sunnah menjadilawan dari bid’ah. Bukan sunnah dalam terminologi fikih. Karena sunnah menurut istilah fikih adalah segala perbuatan ibadah yang bila dikerjakan berpahala akan tetapi jika tidak berkela berdosa. Maka sunnah yang dimaksud dalam istilah Ahlus Sunnah adalah seluruh aliran Rasul dan para sahabat, baik yang hukumnya wajib maupun sunnah !! (silakan baca Lau Kaana Khairan karya Ustadz Abdul Hakim, hal. 14-17 baca juga Panduan Aqidah Lengkap penerbit Pustaka Ibnu Katsir hal. 36-40).

Al Jama’ah secara online kumpulan orang yang bersepakat untuk menyembuhkan perkara. Syar’i , al-jama’ah arti orang-orang yang bersatu di atas kebenaran: jama’ah para sahabat bersama orang-orang setelah mereka hingga hari kiamat yang meniti Mantra mereka dalam beragama di atas Al Kitab dan As Sunnah secara lahir maupun batin. Oleh karena itu Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Al Jama’ah adalah segala yang sesuai dengan al haqtuhanmu seorang diri.” (Lihat Al Wajiz fi’ Aqidati Salafish Shalih, hal. 29 dan 30). Ukuran seseorang berada di atas jumlah jama’ah gigi. Akan tetapi ukurannya adalah pengukuran mana ia berpegang teguh dengan kebenaran yaitu Islam yang murni yang ditunjuk oleh para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum . Jika hal ini telah diisyaratkan oleh Rasul akan diuraikan dalam hal ini menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu yaitu al jama’ah . Dalam konteks lain bahwa mereka adalah orang-orang yang beragama melaluinya Nabi dan para sahabat. Hadits perpecahan adalah hadits yang sah menurut hadits ulama ahli. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan di dalam Majmu ‘Fatawa(3/345), “Hadits tentang perpecahan adalah hadits yang shahih dan sangat populer di dalam kitab-kitab sunan dan musnad.” (Lihat Al Minhah Al Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah , hal. 348, Silsilah Ash Shahihah no. 203 dan 204 karya Al Imam Al Albani rahimahullah , keterangan tentang status dan faidah-faidah dari hadits perpecahan di dalam buku Lau Kaana Khairan , hal. 190-196).

Dibutuhkan hak Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Sunnah para sahabatnya dan juga orang-orang yang melihat mereka dan mereka dalam berkeyakinan, berucap dan mengerjakan amalan, demikian pula orang -orang yang konsisten di atas jalur ittiba ‘ ( Sesali Sunnah) dan menjauhi jalur ibtida’ (mereka-reka bid’ah). Mereka senantiasa ada, eksis dan mendapatkan pertolongan (dari Allah) hingga datangnya hari kiamat. Oleh sebab itu adalah mereka menyembunyikan mereka adalah kesesatan. Mereka yang disebut dengan istilah ‘salaf’ (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih , hal. 30,Panduan Aqidah Lengkap hal. 40, baca juga Ahlus Sunnah di dalam Ma’alim Ushul Fiqh ‘inda Ahlis Sunnah wal Jama’ah hal. 17-18, karya Syaikh Doktor Muhammad bin Husain Al Jizani hafizhahullah ).

Sedangkan lawan dari Ahlus Sunnah adalah Ahlul bid’ah yaitu orang-orang yang tetap mengerjakan bid’ahiriman yang ditegakkan hujjah atas mereka, baik bid’ah i’tiqadiyyah (keyakinan) maupun bid’ah amaliyah (amalan), tetapi kemudian mereka tetap istiqamah dengan bid’ahnya (lihat Lau Kaana Khairan , hal. 170). Kita tidak bisa sembarangan dalam menghukumi seseorang atau jama’ah sebagai ahli bid’ah. Syaikh Al Albani berkata, “Terjatuhnya seorang ulama dalam upaya sebagai ahli bid’ah ….” “… Ada dua syarat agar seseorang sebagai ahli bid’ah:

  1. Ia mengisi seorang mujtahid, namun sebagai pengikut hawa nafsu.
  2. Berbuat bid’ah merupakan kebiasaannya ( Silsilah Huda wa Nur , kaset no. 785)

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad (Ahli hadits Madinah saat ini) berkata, “Tidak semua orang yang melakukan bid’ah secara otomatis menjadi ahli bid’ah. Hanyalah katakan ahli bid’ah bagi orang yang telah jelas dan dikenal dengan bid’ahnya. Sebagian orang sangat berani dalam pembid’ahan sampai-sampai mentabdi ‘orang yang memiliki manfaat dan memberikan manfaat yang sangat bagi masyarakat. Sebagian orang menyebut setiap orang yang menyelisihinya sebagai ahli bid’ah. ”(Dinukil dari Ringkasan buku Lerai Pertikaian, Sudahi Permotensi karya Ustadz Abu Abdil Muhsin hafizhahullah ).

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah yang pernah ditanya: Siapakah yang berhubungan dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah? Beliau menjawab, “Yang disebut sebagai Ahlus Sunnah wal jama’ah mohon orang-orang yang benar-benar berpegang teguh dengan As Sunnah (ajaran Nabi) dan mereka bersatu di atasnya. Mereka tidak menyimpang kepada selain ajaran Sebagai Sunnah, baik dalam urusan keyakinan atau dalam masalah amal praktik hukum. Oleh sebab inilah mereka disebut dengan Ahlus Sunnah, yaitu karena mereka bersatu padu di atasnya (diatas Sunnah). Danoptik Anda cermati negara ahlul bid’ah niscaya dan Anda menemukan mereka itu berselisih dalam hal metode akidah dan amaliah, ini menunjukkan bahwa mereka sangat jauh dari petunjuk As Sunnah, tergantung dengan tingkat kebidanan yang mereka ciptakan. ”(Fatawa Arkanul Islam , hal. 21).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah memiliki sebutan lain di kalangan para ulama yaitu: Ash-habul Hadits atau Ahlul Hadits (pengikut dan pembela hadits), Ahlul Atsar (pengikut jejak salaf), Ahlul Ittiba ‘ (Peniti Sunnah Nabi), Al Ghurabaa’ ( Orang-orang yang terasing dari berbagai keburukan), Ath Thaa’ifah Al Manshurah(Kelompok yang menemukan pertolongan Allah) dan Al Firqah An Najiyah(Golongan yang selamat). Dan pada saat yang sama saat ini mencampur banyak kelompok dalam tubuh Islam yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Pengikut Al Kitab dan As Sunnah namun ternyata praktik dan ajarannya jauh menyimpang dari prinsip-prinsip Salafush Shalih kemudian bangkitlah para ulama untuk memberikan sebuah istilah pembeda Salafiyun (para pengikut Salaf) (lihat Mujmal Ushul Ahlis Sunnah , hal. 6, Limadza hal. 36-38, Minhaaj Al Firqah An Najiyah , hal. 6-17 dan Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal 7-14). Lebih dari yang Anda pelajari tentang sejarah dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah maka kami melatih untuk membacaSyarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas yang menerbitkan Pustaka At Taqwa hal. 14-17. Di sana beliau sudah menerangkan hal ini, semoga Allah memberikan balasan baik-sealing kepada beliau. Dan bagi para pembaca yang ingin membaca informasi yang menjelaskan bahwa Al Firqatun Najiyah adalah Ath Tha’ifah Al Manshurah juga sama dengan Ahlul Hadits maka tolong baca buku Mereka Adalah Teroris cet. Saya hal. 77-95. Semoga Allah merahmati para ustadz kita dan menyatukan mereka dalam barisan dakwah Salafiyah dalam membumihanguskan gerombolan dakwah Ahlul bid’ah,… Aammiin.

Hanya Satu yang Selamat!

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah PERNAH ditanya: Nabi shallallahu’ alaihi wa sallam PERNAH memberitakan TENTANG terjadinya perpecahan umatnya Sesudah beliau wafat. Kami sangat mengharapkan keterangan dari yang mulia tentang hal itu? Beliau Menjawab, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Telah memberitakan hearts hadits-hadits Yang Sah (Riwayat Abu Dawud di Kitab As Sunnah bab Syarhu Sunnah (4596), At Tirmidzi di Kitabul Iman bab Iftiraqu Hadzihihil Ummah (2642), Ibnu Majah di Kitabul Fitan bab Iftiraqul Ummah (3991)). Hadits-hadits Itu bahwa bahwa bahwa bahwa bahwa Yahudi Yahudi Yahudi Yahudi Yahudi Yahudi Yahudiecahecahecahecahecahecahecahfirqah . Orang kaum Nashara berpecah menjadi 72 firqah . Dan orang ini akan berpecah menjadi 73 firqah . Seluruh firqah ini terancam berada di neraka kecuali satu firqah . Firqah tersebut terdiri dari orang-orang yang berpegang teguh dengan ajaran dan pemahaman agama yang dipakai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam para para sahabatnya. Kelompok inilah yang disebut dengan Al Firqah An Najiyah (kelompok yang selamat). Mereka selamat dari kebid’ahan kompilasi berada di dunia. Dan mereka terselamatkan dari api neraka di akhirat kelak. Inilah Ath Thaa’ifah Al Manshuurah(kelompok yang diberi pertolongan dan dimenangkan) yang akan tetap eksis hingga datangnya hari kiamat. Mereka senantiasa menang dan mendapat ketegaran dalam menegakkan agama Allah ‘azza wa jalla. ”

“Tujuh puluh tiga firqah ini, salah satunya berada di atas kebenaran selain berada di atas kebatilan. Sebagian ulama berusaha untuk merincinya satu persatu dan kesimpulannya menjadi lima aliran utama ahlul bida ‘ (kaum pembela bid’ah). Dari setiap aliran yang mereka ada untuk menjadi jumlah total bilangan yang telah dicari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sedangkan ulama yang lain mengatakan dalam hal ini sikap yang lebih baik untuk tidak merincinya. Mereka beralasan karena bukan hanya firqah-firqahYang sudah ada ini saja yang tersesat. Tapi sudah banyak kelompok orang yang tersesat dalam jumlah kelompok yang lebih besar di masa sebelumnya. Begitu pula banyak firqah baru yang muncul setelah tujuh puluh kata firqah yang ada sekarang. Mereka berpendapat bahwa bilangan ini tidak akan pernah terhenti dan tidak mungkin bisa mengetahui sampai kapan akhir-akhir ini terjadi pada akhir zaman ketika hari kiamat datang. Oleh sebab itu sifat global yang global global oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan kita katakan bahwasanya orang ini akan berpecah menjadi 73 firqah, semuanya berada di neraka kecuali satu. Kemudian kita katakan bahwa setiap orang yang menyimpang dari petunjuk dan pemahaman Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya adalah termasuk dalam firqah-firqah ini. Dan bisa juga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pandangan tentang pokok-pokok aliran sesat yang belum bisa kita ketahui sekarang ini hanya sebatasungkapan aliran yang baru bisa kita lihat. Atau bisa juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan beberapa aliran utama yang terkandung di cabang-cabang yang disebut oleh sebagian ulama. Ilmu yang ada di sisi Allah ‘azza wa jalla. ”( Fatawa Arkaanul Islamam , hal. 21-22).

Firqah-Firqah yang Menyimpang

Setelah kita tahu bersama bahwasanya satu-satunya jalan yang diridhai Allah dalam beragama adalah tanggapan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; yaitu tegak di atas Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafush shalih . Maka tidak kalah penting sekarang adalah mengetahui berbagai kelompok Islam atau firqahyang menyimpang dari pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di sini kami ingin mengingatkan kembali perkataan Imam Ibnul Qayyim yang sangat penting untuk kita cermati. Beliau rahimahullahmengatakan, “Pemahaman yang benar dan niat yang baik adalah termasuk nikmat yang agung yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Kirim pesan ke orang-orang lain yang lebih besar dan lebih agung setelah nikmat Islam dengan menggunakan minuman ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama Islam, dan Islam tegak di atas pondasi keduanya. Dengan dua nikmat inilah hamba dapat menyelamatkan dirinya dari terjebak di orang orang yang dimurkai ( al maghdhuubi ‘alaihim ), yaitu orang yang memiliki niat yang rusak. Dan juga dengan baik ia selamat dari jebakan jalan orang sesat ( adh dhaalliin ) yaitu orang-orang yang pemahamannya rusak. Juga dengan cerdas dia akan termasuk orang yang meniti jalan orang yang memberi nikmat ( an’amta ‘alaihim) yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik. Mereka berhubungan dengan shirathal mustaqim .. ”( I’laamul Muwaqqi’iin , 1/87, dinukil dari Min Washaaya Salaf , hal. 44) Dari perkataan beliau ini kita dapat menarik kesimpulan dari kata-kata yang berbeda. dan buruknya niat. Inilah dua pokok kesesatan yang ada, baik di dalam Islam maupun di luar Islam.

Sebagian besar kelompok menyimpang yang ada sekarang ini pada hakikatnya mewarisi penyimpangan-penyimpangan yang ada pada para pendahulunya, sedikit atau banyak. Ada di antara mereka yang benar-benar terjadi tetapi ada yang juga menggabung-gabungkan penyimpangan dari berbagai gelombang ke dalam tubuh kelompok mereka. Dan banyak dari mereka sudah tidak lagi pakai nama lama. Akan tetapi mereka kelabui dengan nama-nama yang indah dan mempesona. Ada lagi orang-orang yang tidak puas dengan referensi-referensi Islam dan mencoba menggali ‘tambahan Pelajaran’ dari produk ilmiah orang-orang Kafir. Di antara mereka ada yang masih berada dalam lingkaran Islam. Ada juga yang sudah mental keluar karena bosan dengan manhaj para ulama Salaf dan lebih senang dengan ajaran Orientalis. Maka jadilah orang-orang seperti ini sebagai orang-orang yang merasa memperjuangkan keagungan Nilai ajaran agama Islam. Berdasarkan persangkaan ini maka mereka pun mengumpulkan manusia dan penggabungan ide-ide mereka dalam bentuk ceramah maupun tulisan. Mereka bangun sekolah demi mengkader para penerus kesesatan mereka. Mereka adalah orang-orang muda dan kaum cerdik cendekia. Bahkan tidak mungkin ada di antara mereka yang nekat turun ke jalan dan mengerahkan massa. Atau lebih banyak lagi yang bisa mengangkat dan menumpahkan darah manusia tanpa hak. Mereka bangun sekolah demi mengkader para penerus kesesatan mereka. Mereka adalah orang-orang muda dan kaum cerdik cendekia. Bahkan tidak mungkin ada di antara mereka yang nekat turun ke jalan dan mengerahkan massa. Atau lebih banyak lagi yang bisa mengangkat dan menumpahkan darah manusia tanpa hak. Mereka bangun sekolah demi mengkader para penerus kesesatan mereka. Mereka adalah orang-orang muda dan kaum cerdik cendekia. Bahkan tidak mungkin ada di antara mereka yang nekat turun ke jalan dan mengerahkan massa. Atau lebih banyak lagi yang bisa mengangkat dan menumpahkan darah manusia tanpa hak.Subhaanallaah … !!

Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah mengatakan, “Setiap golongan yang menamakan diri dengan selain identitas Islam dan Sunnah adalah mubtadi ‘ (ahli bid’ah) seperti contohnya: Rafidhah (Syi’ah), Jahmiyah, Khawarij, Qadariyah, Murji’ah, Mu ‘tazilah, Karramiyah, Kullabiyah, dan juga kelompok-kelompok lain yang mirip dengan mereka. Inilah firqah-firqah sesat dan kelompok-kelompok bid’ah, semoga Allah semesta kita darinya. ”( Lum’atul I’tiqad , dinukil dari Al Is’ad fi Syarhi Lum’atil I’tiqad hal 90. Namun di sana tidak ada nama Khawarij, dugaan saya ini adalah salah cetak, mungkin dari syarahnya yang juga menjelaskan firqah Khawarij.Syarah Lum’atul I’tiqad Syaikh Al ‘Utsaimin, hal. 161). Setelah membawakan perkataan Imam Ibnu Qudamah ini Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah sebutan untuk sebagian ciri-ciri Ahlul bid’ah. Beliau mengatakan, “Kaum Ahlul bid’ah itu memiliki beberapa ciri, di antara cirinya adalah:

  1. Mereka memiliki karakter selain Islam dan Sunnah sebagai akibat dari bid’ah-bid’ah yang mereka ciptakan, yang baik yang terkait dengan urusan, perbuatan maupun keyakinan.
  2. Mereka sangat fanatik terhadap pendapat-opini golongan mereka. Jika mereka tidak bisa kembali ke kebenaran, itu berarti mereka sudah jelas bagi mereka.
  3. Orang-orang dari Imam Muslim dan para pemimpin agama (ulama) ( Syarah Lum’atul I’tiqad , hal. 161).

Kemudian Syaikh Al ‘Utsaimin menjelaskan satu persatu dari firqah sesat itu secara singkat. Berikut ini intisari penjelasan beliau dengan beberapa tambahan dari sumber lain. Mereka itu adalah:

  1. Rafidhah (Syi’ah) , yaitu orang-orang yang melewati batas dalam mengagungkan ahlul bait (keluarga Nabi). Mereka juga mengkafirkan orang-orang selain golongannya, baik itu dari titik para Shahabat maupun yang lainnya. Ada juga di antara mereka yang menuduh para Shahabat menjadi fasikosting wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ini adalah pun yang terdiri dari banyak sekte. Di antara mereka ada yang sangat ekstrim hingga berani mempertuhankan ‘Ali bin Abi Thalib, dan ada pula di antara mereka yang lebih rendah kesesatannya dibandingkan mereka ini. Tokoh mereka di zaman ini adalah Khomeini dan begundal-begundalnya. (Silakan baca Majalah Al Furqon Edisi 6 Tahun V / Muharram 1427 hal. 49-53).
  2. Jahmiyah . Disebut demikian karena mereka adalah penganut paham Jahm bin Shofwan yang madzhabnya sesat. Madzhab mereka dalam masalah tauhid adalah menolak sifat-sifat Allah. Sedangkan madzhab mereka dalam masalah takdir adalah menganut paham Jabriyah. Paham Jabriyah menganggap bahwa manusia adalah makhluk yang ada dan tidak memiliki pilihan dalam mengerjakan kebaikan dan keburukan. Dalam masalah keimanan madzhab mereka adalah menganut paham Murji’ah yang menyatakan bahwa iman itu cukup dengan pengakuan hati tanpa harus diikuti dengan ucapan dan amalan. Konsekuensi konsekuensi konsekuensi konsekuensi pelaku pelaku pelaku seorang seorang seorang seorang seorang seorang seorang sempurna sempurna sempurna sempurna sempurna. Wallaahul musta’aan.
  3. Khawarij . Ini adalah orang-orang yang memberontak kepada khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’ anhu karena alasan pemutusan hukum. Di antara ciri-ciri pemahaman mereka adalah membolehkan pemberontakan kepada penguasa muslim dan mengkafirkan tawaran dosa dosa besar. Mereka ini juga terbagi menjadi bersekte-sekte lagi. (Tentang Pemberontakan, silakan baca Majalah Al Furqon Edisi 6 Tahun V / Muharram 1427 hal. 31-36).
  4. Qadariyah . Ini adalah orang-orang yang menolak menolak takdir. Malah mereka meyakini bahwa hamba memiliki kehendak bebas dan kemampuan melakukan yang terlepas sama sekali dari kehendak dan kekuatan Allah. Pelopor yang menampakkan perasaan ini adalah Ma’bad Al Juhani di akhir-akhir zaman kehidupan para Shahabat. Di antara mereka ada yang ekstrim dan ada yang tidak. Namun yang tidak ekstrim ini menyatakan bahwa proses perbuatan hamba bukan karena kehendak, kekuasaan dan ciptaan Allah, jadi inipun sama sesatnya.
  5. Murji’ah . Menurut mereka amal injeksi dari iman. Cukuplahlah iman itu dengan modal penghargaan hati saja. Konsekuensi adalah mereka adalah dosa dosa besar termasuk orang yang imannya sempurna. Meskipun dia melakukan kemaksiatan apapun dan meninggalkan ketaatan apapun. Madzhab mereka ini merupakan kebalikan dari madzhab Khawarij.
  6. Mu’tazilah . Mereka adalah para pengikut Washil bin ‘Atha’ yang beri’tizal (menyempal) dari majelis pengajian Hasan Al Bashri. Dia menyatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar itu di dunia dikenakan sebagai orang yang berada di antara dua posisi (manzilah baina manzilatain), tidak kafir tapi juga tidak beriman. Mereka akan di akhirat mereka akhirnya juga akan kekal di dalam Neraka. Tokoh lain yang merupakan jejaknya adalah Amr bin ‘Ubaid. Madzhab mereka dalam masalah tauhid Asma ‘wa Shifat adalah menolak ( ta’thil) Lampiran kelakuan kaum Jahmiyah. Dalam masalah takdir mereka ini menganut paham Qadariyah. Sedang dalam masalah utama dosa mereka mereka menganggapnya tidak kafir tapi juga tidak beriman. Dengan dua prinsip terakhir ini pada hakikatnya mereka bertentangan dengan Jahmiyah. Karena Jahmiyah menganut paham Jabriyah dan Pertimbangkan dosa usus keimanan. Inilah anehnya bid’ah, dua prinsip aliran sesat yang bertentangan bisa ditemui dalam satu tubuh. Tahsabuhum jamii’an wa quluubuhum syattaa . Anda lihat mereka yang bersatu padu akan tetapi mereka akan tercerai-berai. (lihat QS. Al Hasyr: 14).
  7. Karramiyah . Mereka adalah pengikut Muhammad bin Karram yang disalurkan kepada madzhab Tasybih (penyerupaan sifat Allah dengan makhluk) dan menurut pendapat Murji’ah, mereka ini juga terdiri dari banyak sekte.
  8. Kullabiyah. Ini adalah Pengikut Abdullah bin Sa’id bin Kullab Al Bashri. Mereka inilah yang mengeluarkan statemen tentang Tujuh Sifat Allah yang mereka tetapkan dengan akal. Kemudian kaum Asya’irah (yang mengakui Imam Abul Hasan Al Asy’ari) di masa itu pun Langkah demi langkah yang sesat itu. Perlu kita ketahui bahwa Imam Abul Hasan Al Asy’ari pada mulanya menganut paham Mu’tazilah Dihari selama sekitar 40 tahun. Kemudian periode itu beliau bertaubat darinya dan membongkar kebatilan madzhab Mu’tazilah. Di tengah perjalanannya kembali kepada manhaj Ahlus Sunnah beliau mengatakan bahwa orang-orang tidak mau mengakui sifat-sifat Allah kecuali tujuh hal yaitu: hidup, tahu, berkuasa, berbicara, berkehendak, mendengar dan melihat. Beliau akhirnya beliau bertaubat secara total dan berpegang teguh dengan madzhab Ahlus Sunnah, semoga Allah merahmati beliau. (lihatSyarh Lum’atul I’tiqad , hal. 161-163).

Syaikh Abdur Razzaq Al Jaza’iri hafizhahullah mengatakan, “Dan firqah-firqah sesat tidak terbatas pada beberapa firqah yang sudah melepaskan ini saja. Karena ini adalah sebagiannya saja. Di antara firqah sesat lainnya adalah: Kaum Shufiyah dengan berbagai macam tarekatnya, Kaum Syi’ah dengan sekte-sektenya, Kaum Mulahidah (atheis) dengan berbagai macam kelompoknya. Dan juga kelompok-kelompok yang gemar bertemakan (bergolong-golongan) di masa kini dengan berbagai macam alirannya, seperti contohnya: Jama’ah Hijrah wa Takfir yang menganut aliran Khawarij; yang negatif ulah mereka telah menyebar kemana-mana (yaitu dengan maraknya pengeboman dan pemberontakan kepada penguasa, red), Jama’ah Tablighdari India yang menganut aliran Sufi, Jama’ah-jama’ah Jihad yang mereka ini termasuk pengusung paham Khawarij tulen, kelompok Al Jaz’arah , begitu juga (gerakan) Al Ikhwan Al Muslimun baik di tingkat internasional maupun di kawasan regional (bacalah buku Menyingkap Syubhat dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin karya Ustadz Andy Abu Thalib Al Atsary hafizhahullah ). Sebagian di antara mereka (Ikhwanul Muslimin) ada juga yang tumbuh berkembang menjadi beberapa Jama’ah Takfiri (yang mudah mengkafirkan orang). Dan kelompok-kelompok sesat selain mereka masih banyak lagi. ”(Lihat Al Is’aad fii Syarhi Lum’atul I’tiqaad, hal. 91-92, bagi yang ingin menelaah lebih dalam tentang hakikat dan bahaya di balik jama’ah-jama’ah yang sudah ada membaca buku Jama’ah-Jama’ah Islam karya Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali hafizhahullah ).

Haram Berpecah Belah Menjadi Berbagai Jama’ah dan Partai

Ini adalah sebagian dari fatwa para ulama yang mengecam keras tindakan mendirikan berbagai jama’ah dan mengkotak-kotakkan Islam dalam sekat-sekat partai dan kelompok keagamaan. Komite Tetap Disebut fatwa Kerajaan Arab Saudi yang diketuai oleh Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya, “Apakah hukum berbilangnya jama’ah dan hizb / partai di dalam Islam, dan apakah hukum berloyalitas efektif?”Jawabannya: “Tidak ada kaum muslimin yang terpecah dalam agama mereka menjadi berbagai kelompok dan golongan … Karena itu adalah penggolongan yang mencampakkan Allah kepada kita. Allah mencela orang yang menciptakan dan juga orang yang mengecewakan orang yang mencetuskannya. Dan Allah telah terlibat pelakunya dengan siksaan yang sangat besar. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah ..” (QS. Ali ‘Imran: 103) sampai firman Allah ta’ala, “Dan janganlah kamu melihat orang-orang yang berpecah belah dan senantiasa berselisihiriman Menjalankan berbagai macam pilihan kepada mereka. Dan bagi mereka Pemeriksaan siksaan yang sangat besar. “(QS. Ali ‘Imran: 105). Allah ta’ala dan berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka tidak dapat mengubah tanggung jawab mereka tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka.” (QS. Al An’am: 159). Para pejabat muslim kaum muslimin (Pemerintah, red) yang melakukan upaya pengaturan terhadap mereka dan memilah-milah mereka dalam berbagai kegiatan agama atau keduniaan (bukan untuk memecah belah, merah). Tindakan yang disyari’atkan. ”(Fatwa No. 1674 tertanggal 7/10/1397 H, lihat Silsilah Abhats Manhajiyah Salafiyah , hal. 52-53).

Nasihat serupa juga disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah . Beliau mengatakan, “Tidak tersedia baik di dalam Al Kitab atau di dalam As Sunnah yang membolehkan berbagai macam jama’ah dan hizb / partai. Akan tetapi di dalam Al Kitab dan As Sunnahlah mencela hal itu. Allah ta’ala berfirman yang berarti, “Kemudian mereka (Pengikut-Pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah menjadi beberapa pecahan. Tiap-setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). ” (QS. Al Mu’minuun: 53). Dan tidak ragu lagi bahwasanya pengumuman hizb-hizbini bertentangan dengan perintah Allah, bahkan ia juga bertolak dengan anjuran yang disinggung di dalam firman Allah ta’ala, “Sesungguhnya (agama Tauhid) Ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku. ” (QS. Al Anbiyaa ‘: 92)” (lihat Silsilah Abhats Manhajiyah Salafiyah, hal. 54).

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah yang dulunya pernah membungkinkan orang untuk khuruj (keluar daerah untuk berdakwah ala Tablighi dalam rentang waktu tertentu) bersama Jama’ah Tabligh pun dalam fatwa terakhirnya mengatakan, “Jama’ah Tabligh tidak memiliki bashirah (ilmu dan keterangan) dalam berbagai situasi akidah, tidak dapat digunakan untuk khuruj bersama mereka, kecuali bagi orang yang sudah memiliki bekal ilmu dan bashirah (pemahaman yang dalam) dalam hal akidah lurus yang dipegang oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah pencahayaan dia bisa mengarahkan dan menasihati mereka. ” (Majalah Ad Da’wah, Riyadh No. 1438 tertanggal 13/1/1414 H dan Dikirim dalam Majmu ‘Fatawabeliau 8/331, dinukil dengan isi dari Silsilah Abhats Manhajiyah Salafiyah , hal. 55-56). Dalam masalah ini para ulama lainnya juga memberikan fatwa yang melarang terbentuknya berbagai jama’ah dan hizb semacam ini, di antara mereka adalah Syaikh Shalih Al Fauzan (anggota Lembaga Ulama Besar Kerajaan Arab Saudi), Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani ( mujaddid dan ahli hadits abad ini), Syaikh Bakr Abu Zaid dan ulama-ulama yang lain dari negeri Saudi, Yaman, Yordan, dan negeri lain, semoga Allah memelihara mereka semua.

Maka pada masa ini di negeri yang kita tempati, kita benar-benar dibuat terheran-heran oleh ulah sebagian kelompok Islam yang menyerukan persatuan dan mengajak untuk mempererat jalinan ukhuwah di antara sesama muslim namun di saat yang sama mereka saat asyik mendengung-dengungkan kehebatan partainya sembari mengibar -Bibarkan bendera partainya, mewarnai kaos dan beraneka atribut partai, merentangkan spanduk kebanggaannya dan memobilisasi massa untuk mencoblos partai mereka dan tidak memilih partai Islam yang lainnya. Inilah salah satu keajaiban Harakah Islamiyah (Gerakan Islam) abad 21 yang mencoba ‘menegakkan benang basah’ dan rela untuk merengek-rengek demi Demokrasi demi mendapatkan jatah kursi. Wallahul musta’aan. Adakah orang yang mau merenungkan?

Penutup

Di akhirat ini kami ingin menyebutkan ulang bahwa Salafidak para sahabat Nabi dan orang-orang yang menganggap mereka dengan baik,> Salaf Dewan atau organisasi atau organisasi atau yayasan atau perusahaan… jangan salah paham. Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam has bersabda mensifati sebuah golongan yang selamat dari perpecahan di dunia dan siksa di akhirat, yang biasa digunakan dengan Al Firqah An Najiyah (golongan yang selamat) atau Ath Thaa’ifah Al Manshuurah (kelompok yang mendapat pertolongan) atau Al Jama’ah atau Al Ghurabaa ‘ (orang-orang yang asing), beliau bersabda,“Mereka adalah orang-orang yang beragama tentang caraku dan cara para sahabatku pada hari ini.” (HR. Ahmad, dinukil dari Kitab Tauhid Syaikh Shalih Fauzan hal. 11).

Maka, pertanyaan yang harus kita tujukan pertama kali kepada diri-diri kita sekarang adalah; apakah akidah kita, ibadah kita, dakwah kita, perjuangan kita sudah selaras dengan petunjuk Rasul dan para sahabat ataukah belum? Pikirkanlah baik-baik dengan hati dan pikiran yang tenang: Benarkah apa yang selama ini kita peroleh dari para ustadz dan Murabbi serta Murabbiyat sudah sesuai dengan pujian sahabat ataukah belum? Kalau iya mana buktinya? Marilah kita ikuti jejak dakwah Rasul dan para sahabat dan juga para ulama Salaf dari zaman ke zaman. Ukurlah keadaan kita dengan timbangan Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salaf. Ingat, jangan ta’ashshub(fanatik buta). Pelajari dulu akidah dan manhaj yang benar, baru saudara akan bisa menilai apakah manhaj dan dakwah saudara-saudara sudah cocok dengan pujian sahabat ataukah belum cocok tapi konsultasi-paksa biar kelihatan cocok ?! Orang yang bijak mengatakan: ‘Kenalilah kebenaran maka engkau akan mengenal siapa yang benar!’ Mengapa kita harus ngotot untuk menjadi tokoh, beberapa individu, sebuah partai, atau yayasan, atau organisasi, atau pergerakan, atau perhimpunan, atau kesatuan aksi, atau apa pun yang ada, yang menyimpang dari jalan Rasul dan para sahabat? Pikirkanlah ini baik-baik sebelum Anda bertindak, berorasi, menulis, atau menggalang massa, sadarilah kita semua telah mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala dari atas langit sana dengan firman-Nya yang tidak,“Dan janganlah kamu berlaku apa-apa yang kamu tidak punya ilmu tentangnya, karena sebenarnya pendengaran, penglihatan dan hati semua itu pasti akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al Israa ‘: 36). Peganglah akidah ini kuat-kuat !!

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah:” Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik . ” (QS. Yusuf: 108)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir Sebagaimana Sa’di rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam : [katakanlah] kepada manusia [inilah jalanku] artinya: jalan yang kutempuh dan kuajak kamu untuk menempuhnya. Yaituakan jalan yang akan mengantarkan menuju Allah dan negeri kemuliaan-Nya (surga). Jalan itu mencakup ilmu demi kebenaran dan mengamalkannya, menjunjung tinggi kebenaran dan mengikhlashkan ketaatan beragama hanya untuk Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. [aku mengajak kamu kepada Allah] artinya: aku memotivasi seluruh makhluk dan hamba-hamba agar menempuh jalan menuju Tuhan mereka. Aku senantiasa mendorong mereka untuk itu, dan mereka dari bahaya yang dapat menjauhkan dari jalan itu. Bersama itu akupun memiliki [hujjah yang nyata] dari ajaran agamaku, (dakwahku) tegak di atas landasan ilmu dan keyakinan, tidak ada keraguan, kebimbangan dan ketidakpastian. [dan] demikian pula [orang-orang yang mengikutiku], mereka mengajakmu kepada Allah terbuka ajakanku, sesuai hujjah yang nyata dari agama-Nya. [dan Maha suci Allah] dari segala sesuatu yang disandarkan kepada-Nya tetapi tidak sesuai dengan kemuliaan-Nya atau pengurangan kesempurnaan-Nya. [dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik] dalam berbagai urusanku, tetapi aku menyembah Allah dengan mengikhlashkan agama untuk-Nya. ”( Taisir Karimir Rahman , hal. 406).

Sesulah yang dimudahkan bagi kami untuk melengkapi tulisan ini. Tulisan ini memang masih jauh dari kesempurnaan. Yang benar bersumber dari Allah. Yang mana berasal dari kami dan dari syaithan, Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari kesalahan kami. Dan kami memohon ampun kepada Allah atasnya. Nasihat dan kritik membangun dari para pembaca yang budiman sangat kami temukan demi tegaknya kebenaran dan untuk mengharapkan limpahan ridha, rahmat dan barakah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga Allah menerima amal-amal kita. Shalawat beriring salam semoga selalu tercurah ke teladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam , keluarga, para sahabat dan seluruh pengikut mereka yang setia. Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.

Jogjakarta, Jum’at 23 Rabi’ul Awwal 1427 Hijriyah

Catatan:

Mohon kepada ikhwah sekalian untuk menyebarluaskan risalah ini secara utuh tanpa mengubah isi dan memenggal tulisan di dalamnya, dan jangan lupa untuk tetap mencantumkan sumbernya (muslim.or.id). Jazaakumullahu khoiron…

***

Disusun oleh:
Departemen Ilmiah Divisi Bimbingan Masyarakat, Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary Yogyakarta (2006)

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/430-mari-mengenal-manhaj-salaf.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s